Senin, 22 September 2014

Pendengaranku



Latar Belakang Masalah
Saat janin usia 7 bulan, ibu yang mengandungku jatuh terpeleset di kamar mandi. Kemudian saat aku usia 17 bulan, aku jatuh dari tempat tidur, tidak diketahui bagian tubuh mana yang menimpa lantai terlebih dahulu. Dan aku tidak mengalami gangguan fisik selain gangguan keseimbangan yang menyebabkanku sering jatuh sampai kuliah semester VIII yang diatasi dengan terapi renang agar ekstrimitasku kuat, meskipun batuk dan pilek jadi sering melandaku. Tapi ternyata ada juga hal lain yang cukup mengganggu, yaitu pendengaranku yang kurang. Ini diketahui sejak aku usia 4 tahun. Sebelumnya normal-normal saja. Sampai suatu saat ibu memanggilku dari jauh dan aku tidak mendengarnya, padahal sebelumnya mampu.

Mungkin tidak secara langsung riwayat jatuh itu jadi biang masalah ini. Kesimpulan ini kudapat dari pelajaran tentang anatomi dan fisiologi telinga. Ada organ yang terkait dengan sistem auris ini mengatur keseimbangan tubuh. Tunggu, tunggu.. Kenapa bisa riwayat jatuh jadi penyebab kurangnya pendengaranku, sementara teorinya pendengaran yang terganggu mengakibatkan keseimbangan yang rapuh dan bisa menjadi penyebab individu sering jatuh? Lho? Ah, aku terlalu terpukau dengan cerita orangtuaku yang mengatakan kemungkinan penyebabnya adalah riwayat jatuh, padahal teorinya berkebalikan. Mana yang benar, ya?

Masalah Lain yang Berhubungan

Ternyata masalah ini menyebabkan bicaraku seperti Bilal bin Rabbah r.a., bedanya kalau Bilal r.a. pada huruf sin, aku pada huruf ‘er’. Aku baru tahu kira-kira usia kelas dua-tiga SD setelah ibuku mengomentari seorang penyanyi cilik di televisi yang mengucap huruf ‘er’ dengan ‘el’ dan menyamakannya denganku. Kukira selama ini bicaraku sama dengan orang lain, huruf ‘er’ yang aku ucapkan sama seperti yang aku dengar dari mereka. Akhir-akhir ini saja aku mulai menyadari bukan huruf ‘el’ yang menjadi 'pengganti' huruf ‘er’, tapi huruf ‘eng’. Aku yang sudah bisa fokus dengan suaraku sendiri ini mulai berlatih mengucap huruf ‘er’ meskipun baru sebagai huruf mati yang sedikit-sedikit mendekati berhasil setelah mengerahkan kekuatan penuh, seperti kata ‘lapar’ atau ‘bermain’. Mungkin juga ini berkat operasi frenulectomy yang aku jalani dua tahun yang lalu. Kata temanku, sejak itu suaraku jadi lebih jelas. Nanti akan aku ulas di segmen yang lain.

Melenceng dari topik, suaraku ini banyak mengundang komentar orang yang mendengarnya, ada yang bilang lucu, seksi, aneh, seperti anak kecil, seperti sedang mengulum permen karet, sampai seperti orang Prancis. Hihihi.. Eee, dari tadi mencari penyebabnya, malah jadi membahas akibatnya.

Terapi Pertamaku

Begitu tahu ada yang tidak beres dengan telingaku, ibu lantas membawaku ke rumah sakit, mencari tahu apa yang salah. Tapi dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) yang dituju tidak menemukan kelainan pada fisik telingaku. Aku dirujuk ke dokter saraf.

Oleh dokter saraf, aku disarankan melalui pemeriksaan penunjang yang bermacam-macam, antara lain rontgen thorax (dada), magneting resonance imaging (MRI), elektrokardiogram (EKG), dan computed tomography (CT) scan. Entah apa yang ditemukan si neurolog hingga aku diharuskan menghisap tablet manis rasa lemon tiap Senin malam. Dan di kelas empat SD, aku terpaksa izin setiap Senin jam 11 saat pelajaran IPS Geografi untuk kontrol. Alhamdulillah, guruku orang yang peduli kebutuhan muridnya, sehingga aku diperkenankan untuk meninggalkan pelajaran tersebut. Syukur juga, pelajaran SD waktu itu masih bisa dipelajari sendiri di rumah dengan bimbingan orangtuaku, tidak seperti kurikulum sekarang yang aku dengar menyulitkan para orangtua untuk mengajari anak-anaknya di rumah karena tingkat kesukarannya yang tinggi.

Aku berhenti mengonsumsi obat tersebut saat tiba-tiba aku merasa jenuh dan tidak ada perkembangan yang berarti. Bapakku tidak menyerah begitu saja. Dicarinya ke sana kemari pengobatan-pengobatan alternatif sampai ke luar kota. Tidak hanya satu macam terapi, tapi bermacam-macam. Ada yang dengan cara mengurut sampai seluruh tubuhku sakit semua, ada yang menggunakan lilin sampai telingaku panas, ada yang berdoa saja tanpa kumengerti apa maknanya, ada yang menyuruhku minum air putih yang diaku si terapis sudah didoakan tapi rasanya tidak enak seperti dicampur wax, sampai yang terakhir dengan ruqyah dan bekam. Sampai sekarang beliau tidak berhenti mencari pertolongan agar aku tidak mengalami kesulitan nantinya, terutama dalam hal listening tes TOEFL.

Aku juga sempat disarankan menggunakan alat bantu dengar. Awalnya, aku terkejut saat mendengar suara tokek, cicak, dan binatang-binatang malam karena seingatku belum pernah kudengar suara itu sebelumnya. Senang sekali rasanya, tapi hanya sekali itu aku mau memakainya karena bisingnya mengganggu konsentrasiku. Kalau volumenya aku kecilkan, malah tidak dengar karena lubang telingaku tertutup alat itu. Kalau dibesarkan, orang yang bicara dengan suara biasa malah terdengar seperti berteriak di dekat telingaku. Aku tidak ingin bapak sedih karena tidak mau memakainya padahal sudah mahal-mahal dibelikan, tapi aku juga tidak mau tergantung pada alat itu.

Masalah Sebenarnya

Sebenarnya gendang telingaku tidak kalah keras dalam menangkap getaran bunyi, tapi mungkin si utusan kecapaian di jalan untuk menyampaikan ke saraf, sehingga hasilnya kurang clear, kurang jernih. Aku bisa mendengar kata ‘pisang’ jadi ‘jiwa’ (vokalnya sama tapi konsonannya beda), ‘tidak menghasilkan’ jadi ‘menghasilkan’ (ada kata yang hilang), atau ‘menurut pengakuan’ jadi ‘beruwutpengunun’ (tidak jelas sama sekali, seperti murmur), atau tercampur dengan suara yang lain. Sebagai catatan, aku tinggal di daerah yang desibel atau kebisingannya masih normal.

Memulai Lagi Terapi Medis setelah Sekian Lama

Bapak yang masih penasaran setelah bertahun-tahun aku meninggalkan terapi medis mengajakku kembali periksa ke ahli medis setelah mendapat ada informasi tentang alat baru yang bisa mendeteksi kelainan pada telinga. Kali ini ke rumah sakit terbesar se-Jogja-Jateng yang sering dihindari seluruh keluarga besarku karena pelayanannya yang jauh dari memuaskan. Aku mau karena kupikir pastinya belum banyak rumah sakit yang mempunyai alat itu, entah apa namanya. Aku juga penasaran sebenarnya. Mulai dari awal lagi, deh.

Disarankan Terapi Hiperbarik Oksigen

Setelah dua-tiga kali menjalani audiometri dan hasilnya dikonsultasikan ke konsultan THT di situ, aku disarankan menjalani BERA. Sayangnya petugasnya tidak mau melakukan tanpa indikasi yang kuat. Akhirnya setelah mengikuti saran si pemeriksa untuk pemeriksaan yang lebih ringan yang aku lupa namanya, diketahui ada yang tidak biasa pada serabut getar telingaku. Bisa karena terlalu panjang dan dalam keadaan kusut yang hanya bisa diurai dengan jalan operasi atau karena terlalu pendek sehingga getaran yang ditangkap kurang lengkap atau lambat untuk disampaikan ke otak yang menjadikan kurang optimalnya informasi yang dihasilkan. 

Berbekal hasil itu, aku kembali ke konsultan tadi. Meskipun kecewa karena tidak bisa memperoleh hasil BERA, tapi akhirnya konsultan tadi menyarankan ke terapi yang baru lagi, yaitu hiperbarik oksigen selama 10 kali berturut-turut. Waktu itu, di Indonesia, baru ada 3 rumah sakit yang memiliki alatnya, yaitu RS Pertamina Cilacap (RSPC), RSAL Ramelan Surabaya, dan RSAL dr. Mintoharjo di Jakarta. Sekarang sudah bertambah menjadi 13 rumah sakit yang tersebar di nusantara. Saat itu, biaya di RSPC Rp100ribu per sekali terapi, di Surabaya Rp300ribu per kunjungan, dan di Jakarta Rp500ribu setiap kali datang. So, bapak memilih Cilacap karena paling dekat dan Alhamdulillah, paling murah. Dua minggu aku di Cilacap. Kalau tidak salah ingat, waktu itu tahun 2009. Sampai sekarang aku masih merindukan tempat itu, mendoannya, pantainya, suasananya... Lain kali ajak dr. Friska, ah, yang gampang diajak ke mana-mana. Haha..

Oke, ceritanya lanjut ke link ini, yaa..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar