Latar
Belakang Masalah
Saat
janin usia 7 bulan, ibu yang mengandungku jatuh terpeleset di kamar mandi.
Kemudian saat aku usia 17 bulan, aku jatuh dari tempat tidur, tidak diketahui
bagian tubuh mana yang menimpa lantai terlebih dahulu. Dan aku tidak mengalami
gangguan fisik selain gangguan keseimbangan yang menyebabkanku sering jatuh
sampai kuliah semester VIII yang diatasi dengan terapi renang agar
ekstrimitasku kuat, meskipun batuk dan pilek jadi sering melandaku. Tapi
ternyata ada juga hal lain yang cukup mengganggu, yaitu pendengaranku yang
kurang. Ini diketahui sejak aku usia 4 tahun. Sebelumnya normal-normal saja.
Sampai suatu saat ibu memanggilku dari jauh dan aku tidak mendengarnya, padahal
sebelumnya mampu.
Mungkin
tidak secara langsung riwayat jatuh itu jadi biang masalah ini. Kesimpulan ini
kudapat dari pelajaran tentang anatomi dan fisiologi telinga. Ada organ yang
terkait dengan sistem auris ini mengatur keseimbangan tubuh. Tunggu, tunggu..
Kenapa bisa riwayat jatuh jadi penyebab kurangnya pendengaranku, sementara
teorinya pendengaran yang terganggu mengakibatkan keseimbangan yang rapuh dan
bisa menjadi penyebab individu sering jatuh? Lho? Ah, aku terlalu terpukau
dengan cerita orangtuaku yang mengatakan kemungkinan penyebabnya adalah riwayat
jatuh, padahal teorinya berkebalikan. Mana yang benar, ya?
Masalah
Lain yang Berhubungan
Ternyata
masalah ini menyebabkan bicaraku seperti Bilal bin Rabbah r.a., bedanya kalau
Bilal r.a. pada huruf sin, aku pada huruf ‘er’. Aku baru tahu kira-kira usia
kelas dua-tiga SD setelah ibuku mengomentari seorang penyanyi cilik di televisi
yang mengucap huruf ‘er’ dengan ‘el’ dan menyamakannya denganku. Kukira selama
ini bicaraku sama dengan orang lain, huruf ‘er’ yang aku ucapkan sama seperti
yang aku dengar dari mereka. Akhir-akhir ini saja aku mulai menyadari bukan
huruf ‘el’ yang menjadi 'pengganti' huruf ‘er’, tapi huruf ‘eng’. Aku yang
sudah bisa fokus dengan suaraku sendiri ini mulai berlatih mengucap huruf ‘er’
meskipun baru sebagai huruf mati yang sedikit-sedikit mendekati berhasil
setelah mengerahkan kekuatan penuh, seperti kata ‘lapar’ atau ‘bermain’. Mungkin
juga ini berkat operasi frenulectomy
yang aku jalani dua tahun yang lalu. Kata temanku, sejak itu suaraku jadi lebih
jelas. Nanti akan aku ulas di segmen yang lain.
Melenceng
dari topik, suaraku ini banyak mengundang komentar orang yang mendengarnya, ada
yang bilang lucu, seksi, aneh, seperti anak kecil, seperti sedang mengulum
permen karet, sampai seperti orang Prancis. Hihihi.. Eee, dari tadi mencari
penyebabnya, malah jadi membahas akibatnya.
Terapi
Pertamaku
Begitu
tahu ada yang tidak beres dengan telingaku, ibu lantas membawaku ke rumah
sakit, mencari tahu apa yang salah. Tapi dokter spesialis telinga, hidung, dan
tenggorokan (THT) yang dituju tidak menemukan kelainan pada fisik telingaku. Aku
dirujuk ke dokter saraf.
Oleh
dokter saraf, aku disarankan melalui pemeriksaan penunjang yang bermacam-macam,
antara lain rontgen thorax (dada), magneting resonance imaging
(MRI), elektrokardiogram (EKG), dan computed tomography (CT) scan.
Entah apa yang ditemukan si neurolog hingga aku diharuskan menghisap tablet
manis rasa lemon tiap Senin malam. Dan di kelas empat SD, aku terpaksa izin
setiap Senin jam 11 saat pelajaran IPS Geografi untuk kontrol. Alhamdulillah,
guruku orang yang peduli kebutuhan muridnya, sehingga aku diperkenankan untuk
meninggalkan pelajaran tersebut. Syukur juga, pelajaran SD waktu itu masih bisa
dipelajari sendiri di rumah dengan bimbingan orangtuaku, tidak seperti
kurikulum sekarang yang aku dengar menyulitkan para orangtua untuk mengajari
anak-anaknya di rumah karena tingkat kesukarannya yang tinggi.
Aku
berhenti mengonsumsi obat tersebut saat tiba-tiba aku merasa jenuh dan tidak
ada perkembangan yang berarti. Bapakku tidak menyerah begitu saja. Dicarinya ke
sana kemari pengobatan-pengobatan alternatif sampai ke luar kota. Tidak hanya
satu macam terapi, tapi bermacam-macam. Ada yang dengan cara mengurut sampai
seluruh tubuhku sakit semua, ada yang menggunakan lilin sampai telingaku panas,
ada yang berdoa saja tanpa kumengerti apa maknanya, ada yang menyuruhku minum
air putih yang diaku si terapis sudah didoakan tapi rasanya tidak enak seperti
dicampur wax, sampai yang terakhir dengan ruqyah dan bekam. Sampai sekarang beliau tidak berhenti mencari
pertolongan agar aku tidak mengalami kesulitan nantinya, terutama dalam hal listening tes TOEFL.
Aku
juga sempat disarankan menggunakan alat bantu dengar. Awalnya, aku terkejut
saat mendengar suara tokek, cicak, dan binatang-binatang malam karena seingatku
belum pernah kudengar suara itu sebelumnya. Senang sekali rasanya, tapi hanya
sekali itu aku mau memakainya karena bisingnya mengganggu konsentrasiku. Kalau
volumenya aku kecilkan, malah tidak dengar karena lubang telingaku tertutup
alat itu. Kalau dibesarkan, orang yang bicara dengan suara biasa malah
terdengar seperti berteriak di dekat telingaku. Aku tidak ingin bapak sedih
karena tidak mau memakainya padahal sudah mahal-mahal dibelikan, tapi aku juga
tidak mau tergantung pada alat itu.
Masalah
Sebenarnya
Sebenarnya
gendang telingaku tidak kalah keras dalam menangkap getaran bunyi, tapi mungkin
si utusan kecapaian di jalan untuk menyampaikan ke saraf, sehingga hasilnya
kurang clear, kurang jernih. Aku bisa mendengar kata ‘pisang’ jadi ‘jiwa’
(vokalnya sama tapi konsonannya beda), ‘tidak menghasilkan’ jadi ‘menghasilkan’
(ada kata yang hilang), atau ‘menurut pengakuan’ jadi ‘beruwutpengunun’ (tidak
jelas sama sekali, seperti murmur), atau tercampur dengan suara yang lain.
Sebagai catatan, aku tinggal di daerah yang desibel atau kebisingannya masih
normal.
Memulai
Lagi Terapi Medis setelah Sekian Lama
Bapak
yang masih penasaran setelah bertahun-tahun aku meninggalkan terapi medis
mengajakku kembali periksa ke ahli medis setelah mendapat ada informasi tentang
alat baru yang bisa mendeteksi kelainan pada telinga. Kali ini ke rumah sakit
terbesar se-Jogja-Jateng yang sering dihindari seluruh keluarga besarku karena
pelayanannya yang jauh dari memuaskan. Aku mau karena kupikir pastinya belum
banyak rumah sakit yang mempunyai alat itu, entah apa namanya. Aku juga
penasaran sebenarnya. Mulai dari awal lagi, deh.
Disarankan
Terapi Hiperbarik Oksigen
Setelah
dua-tiga kali menjalani audiometri dan hasilnya dikonsultasikan ke konsultan
THT di situ, aku disarankan menjalani BERA. Sayangnya petugasnya tidak mau
melakukan tanpa indikasi yang kuat. Akhirnya setelah mengikuti saran si
pemeriksa untuk pemeriksaan yang lebih ringan yang aku lupa namanya, diketahui
ada yang tidak biasa pada serabut getar telingaku. Bisa karena terlalu panjang
dan dalam keadaan kusut yang hanya bisa diurai dengan jalan operasi atau karena
terlalu pendek sehingga getaran yang ditangkap kurang lengkap atau lambat untuk
disampaikan ke otak yang menjadikan kurang optimalnya informasi yang dihasilkan.
Berbekal
hasil itu, aku kembali ke konsultan tadi. Meskipun kecewa karena tidak bisa
memperoleh hasil BERA, tapi akhirnya konsultan tadi menyarankan ke terapi yang
baru lagi, yaitu hiperbarik oksigen selama 10 kali berturut-turut. Waktu itu, di
Indonesia, baru ada 3 rumah sakit yang memiliki alatnya, yaitu RS Pertamina
Cilacap (RSPC), RSAL Ramelan Surabaya, dan RSAL dr. Mintoharjo di Jakarta. Sekarang sudah bertambah menjadi 13 rumah sakit yang tersebar di nusantara. Saat
itu, biaya di RSPC Rp100ribu per sekali terapi, di Surabaya Rp300ribu per
kunjungan, dan di Jakarta Rp500ribu setiap kali datang. So, bapak memilih Cilacap karena paling dekat dan Alhamdulillah,
paling murah. Dua minggu aku di Cilacap. Kalau tidak salah ingat, waktu
itu tahun 2009. Sampai sekarang aku masih merindukan tempat itu, mendoannya,
pantainya, suasananya... Lain kali ajak dr. Friska, ah, yang gampang diajak ke mana-mana. Haha..
Oke,
ceritanya lanjut ke link ini, yaa..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar