Awalnya berasal dari kebingunganku dalam mengelola pendapatanku. Dua tahun bekerja tapi gaji selalu habis. Sudah saatnya aku mulai berinvestasi untuk menambah tabunganku dan tentu saja, jajan. Berbagai cara kupikirkan. Aku ingin investasi yang aman. Aman dari tangan-tangan jahil, termasuk tanganku.
Aku teringat teman yang berinvestasi dengan emas dan pernah mengajakku untuk melakukan hal yang sama. Dia mengaku telah mengumpulkan beberapa emas batangan yang dibelinya di toko milik saudaranya. Emas memang harta yang bernilai, beragam ukuran dan jenisnya, serta mudah dijual kembali. Mungkin cara ini bisa kujalani mengingat pendapatanku masih tergolong kecil.
Aku membandingkan dengan cara bapak dan ibuku yang membeli tanah pekarangan. Di atasnya, dibangun rumah yang tidak untuk dijual atau disewakan tapi untuk diwariskan. Ibuku pernah berkisah tentang mendapat warisan dari pak'uo (sebutan kakek) berupa uang tunai hasil penjualan sawah. Ibuku berfilosofi bahwa dari tanah harus kembali ke tanah, sama seperti manusia yang berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Sehingga uang warisan tersebut memang direncanakan untuk membeli tanah. Selain itu, menurut ilmu ekonomi, tanah merupakan harta tak bergerak dan langka karena semakin banyak yang membutuhkan. Sayangnya, harganya masih di luar jangkauanku.
Selain tanah pekarangan, bapak dan ibuku juga membeli sawah yang saat ini ditanami cabai dan tanaman tumpang sari,
seperti timun dan kacang panjang tapi hasilnya masih besar pasak
daripada tiang karena baru belajar. Meskipun sama-sama tanah, tapi aturan jual-belinya berbeda. Di kabupaten tempat tinggalku, calon pembeli sawah haruslah orang ber-KTP dari kecamatan yang sama dengan lokasi sawah yang hendak dibeli. Alasannya disebabkan oleh semakin banyaknya alih fungsi sawah yang seharusnya sebagai penghasil pangan menjadi bangunan modern. Sama seperti tanah pekarangan, belum bisa kuraih dengan mudah. Terlebih lagi, sawah hanya bisa dijual per petak. Tidak mungkin dicicil.
Lain lagi dengan kawanku yang lain. Banyaknya relasi dan pandainya ia berkomunikasi membuatnya berinvestasi niaga. Disewanya ruko atau toko untuk berdagang makanan. Beberapa cabang telah dibukanya. Sukses sekali. Sayangnya, kemampuan berkomunikasiku kurang bagus dan silaturahmi dengan rekan-rekanku tidak terjalin erat.
Salah seorang dosenku pernah berkata tentang investasi saham yang lambat laun makin marak di Indonesia. Aku tertarik karena dengan ini, aku bisa menjadi pemilik sebuah perusahaan tanpa perlu mendirikan dan mengembangkannya. Referensi-referensi kucari dan kupelajari, termasuk film Wall Street yang keren sekali itu. Ternyata tidak mudah memulainya, diperlukan tekad dan modal yang luar biasa kuat. Lagi-lagi, pesimis.
Mirip dengan emas, mata uang asing! Valuta asing (valas) atau foreign exchange (forex). Sebelumnya, kukira dengan cara membeli dan menjual mata uang asing secara fisik, tapi ternyata hanya jual dan beli seperti pertaruhan. Mendekati judi. Tidak, aku tidak mau.
Nha, yang katanya termasuk aman, obligasi atau surat utang suatu perusahaan. Tetapi, entahlah, aku kurang paham permainannya. Modalnya pun harus besar.
Aku sadari, semua di atas adalah investasi duniawi. Aku yang merasa ibadahnya kurang afdhol belakangan ini, merasa harus juga memikirkan akhirat. Investasi yang insya Allah tidak akan habis, yaitu haji. Jenis investasi yang belum pernah aku jumpai di buku-buku ekonomi. Aku tidak pernah bermimpi tentang rukun Islam yang ke-lima ini. Aku juga berpikir, bukankah investasi itu berupaya agar pendapatan kita bisa tertabung untuk meraih cita-cita kita.
Akhirnya aku memilih yang terakhir. Aku meminta pertimbangan ibu dan mendapatkan dukungan yang tak terkira. Esoknya aku membuka rekening khusus haji. Rekening yang tidak bisa ditarik dan tidak ditarik biaya administrasi. Sayangnya, peraturan yang membolehkan mendaftar haji dengan tabungan minimal dua juta rupiah telah dicabut dan kembali ke peraturan sebelumnya, yaitu boleh mendaftar dengan minimal tabungan 25 juta rupiah. Semoga rezekiku makin lancar sehingga bisa segera mendaftar, melunasinya, dan berangkat ke tanah suci. Aamiin.
Aku mantapkan hati, aku niatkan untuk itu. Semoga bisa kuhadiri undangan istimewa ini dengan baik dan mencapai mabrur. Aamiin. Namun, aku mungkin tidak hanya fokus di sini, aku juga akan mulai dengan investasi yang lain, seperti emas atau logam mulia lain yang terjangkau karena hidupku di dunia insya Allah masih panjang dan juga tanah, pastinya, karena aku ingin memilikinya sendiri melalui jerih payahku dan tidak tergantung pada warisan atau pemberian orang lain. Aamiin, yaa Allah, aamiin. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar